Jargon Korporat

cara kata-kata rumit digunakan untuk melindungi status quo

Jargon Korporat
I

Pagi itu kita sedang duduk sambil memegang segelas kopi hangat. Layar laptop menyala. Sebuah email dari manajemen atas masuk ke kotak masuk kita. Kalimat pertamanya berbunyi: "Kita perlu melakukan streamlining pada core competencies untuk mencapai synergy dan agile paradigm shift di kuartal depan." Kita membaca kalimat itu dua kali. Tiga kali. Lalu kita menatap layar dan berpikir: ini sebenarnya artinya apa, ya? Pernahkah teman-teman merasa kebingungan, atau bahkan merasa kurang pintar, setelah membaca pesan dari kantor? Tenang saja, kita sama sekali tidak sendirian. Fenomena ini sangat nyata dan umum. Kita dikelilingi oleh lautan kata-kata rumit di dunia kerja. Istilah-istilah ini selalu terdengar canggih dan mengintimidasi. Namun, kalau dibedah sampai ke tulangnya, isinya sering kali kosong melompong. Kenapa orang-orang pintar di perusahaan suka sekali berbicara seperti robot asing? Mari kita cari tahu bersama.

II

Untuk memahami teka-teki bahasa ini, kita perlu mundur sejenak ke masa lalu. Menggunakan bahasa rumit untuk membatasi akses bukanlah sebuah penemuan baru. Di Abad Pertengahan, kaum elite Eropa dan institusi agama menggunakan bahasa Latin untuk urusan administrasi dan hukum. Mayoritas masyarakat awam tidak paham bahasa itu. Hasilnya sangat efektif. Kekuasaan, kebijakan, dan pengetahuan hanya berputar di lingkaran mereka saja. Bahasa menjadi pagar tak kasat mata yang memisahkan "kita" dan "mereka". Di era modern sekarang, pagar tersebut berevolusi menjadi jargon korporat. Jargon sebenarnya punya tujuan awal yang sangat masuk akal. Ia diciptakan sebagai jalan pintas komunikasi. Dokter punya jargon klinis agar cepat bertukar informasi medis saat gawat darurat. Namun, di dunia korporat, jargon bermutasi. Ia berubah perlahan dari sekadar alat bantu komunikasi, menjadi sebuah alat pelindung kekuasaan. Kita diajak masuk ke dalam sebuah ilusi bersama. Ilusi bahwa segala sesuatu di perusahaan ini sangat kompleks, berbobot, dan hanya bisa dipahami oleh mereka yang duduk di kursi pimpinan.

III

Lalu, pertanyaannya, kenapa kita akhirnya ikut-ikutan memakai istilah seperti bandwidth, pivot, atau low-hanging fruit dalam obrolan sehari-hari? Ada penjelasan psikologis yang kuat di balik ini. Sebagai manusia, kita punya kebutuhan evolusioner untuk diterima dalam sebuah kawanan. Saat kita masuk ke lingkungan kerja, otak kita otomatis mencari cara agar kita tidak diasingkan. Kita meniru cara rekan kerja berpakaian. Tentu saja, kita juga meniru cara mereka berbicara. Dalam ilmu psikologi, hal ini sering bersinggungan dengan impostor syndrome, yaitu perasaan cemas bahwa kita ini sebenarnya tidak kompeten dan takut ketahuan. Ketika kita merasa tidak aman atau terancam, kita cenderung menggunakan kata-kata yang lebih panjang, asing, dan rumit. Kita berharap bahasa itu bertindak sebagai baju zirah. Otak kita seolah berbisik, "Kalau saya terdengar membingungkan, mereka pasti mengira saya pintar." Sayangnya, sains justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Sebuah studi terkenal dari Princeton University menemukan bukti yang menampar ego kita. Menggunakan kata-kata panjang tanpa alasan yang jelas justru membuat kita dinilai kurang cerdas di mata orang lain.

IV

Di sinilah letak rahasia terbesarnya. Jargon korporat yang berlebihan bukan cuma soal pamer kepintaran. Ia adalah sebuah mekanisme pertahanan yang sistematis untuk melindungi status quo. Mari kita lihat ini dari kacamata sosiologi. Ada sebuah konsep yang disebut linguistic obfuscation, atau pengaburan bahasa. Ketika sebuah sistem penuh dengan celah, atau ketika pemimpin membuat kesalahan, mereka butuh cara untuk menutupi hal tersebut. Bagaimana cara terbaik menyembunyikan kegagalan? Buatlah masalah itu terdengar terlalu abstrak untuk dipertanyakan. Jika sebuah strategi gagal total dan merugikan perusahaan, akan sangat memalukan bagi atasan untuk mengakui, "Maaf, tebakan saya salah besar." Jauh lebih aman dan nyaman untuk mengatakan, "Terdapat tantangan scalability yang mengharuskan kita melakukan realignment strategis terhadap deliverables kita." Perhatikan betapa kalimat kedua terdengar sangat klinis, objektif, dan tak tersentuh emosi. Seolah-olah tidak ada manusia yang salah, hanya sistem alamiah yang sedang menyesuaikan diri. Jargon adalah alat yang sempurna untuk menghapus pertanggungjawaban. Ia menciptakan dinding beton antara pembuat keputusan dan karyawan yang menanggung akibat dari keputusan tersebut. Lagi pula, siapa yang berani memprotes kebijakan jika mereka bahkan tidak mengerti apa isi sebenarnya dari kebijakan itu?

V

Memahami sains dan psikologi di balik kata-kata rumit ini memberi kita sebuah perspektif yang membebaskan. Kita jadi sadar bahwa kejelasan adalah bentuk empati tertinggi dalam berkomunikasi. Tokoh-tokoh paling brilian dalam sejarah sains, dari Richard Feynman hingga Carl Sagan, selalu punya kemampuan menjelaskan konsep fisika kuantum atau alam semesta dengan bahasa yang bisa dipahami remaja. Mereka membuktikan bahwa kecerdasan sejati tidak perlu bersembunyi di balik kerumitan. Mulai sekarang, mari kita ciptakan budaya yang berbeda di sekitar kita. Jika teman-teman mendengar sebuah jargon yang berputar-putar di ruang rapat, jangan takut untuk mengangkat tangan dan bertanya, "Maaf, maksud praktisnya di lapangan apa, ya?" Berbicara dengan bahasa yang membumi dan manusiawi bukanlah sebuah kelemahan. Justru sebaliknya. Dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk berbicara secara jujur, jelas, dan transparan di tengah dunia yang terbiasa menggunakan topeng kata-kata. Mari kita bongkar pagar pembatas itu, satu kalimat sederhana pada satu waktu.